Besok Aku Akan Ditelan Bumi

Menikmati masa tua adalah hal paling menyenangkan kedua dalam hidupkusetelah
bisa mencintai. Setiap sore aku hanya duduk di beranda rumah, tapi ada yang membuatkan teh.
Setiap malam masuk ke kamar, sudah ada yang menyiapkan selimut untuk tidur. Menyenangkan.
Hanya saja di hari tua, aku tak punya cara untuk melepas rindu kepada bumi selain bercerita
kepadamu. Jadi maafkan dan tolong dengarkan, agar aku tidak begitu menderita ketika sore tiba.
Kembali matahari turun membuat tubuhku berbayang gelap di atas teras kayu. Hitam ia
bergerak seiring dengan ayunan kursi goyang yang menenangkan untuk ukuran wanita renta
sepertiku. Lagi pula tak pernah bosan aku menatap halaman walau sudah banyak yang berubah.
Kerjaanku ya begitu, mengingat-ingat dahulu pernah jatuh cinta kepada bumi di beberapa tempat
di sekitar sini.
Kamu lahir di mana deh? Kalau asumsiku betul, berterima kasihlah. Kakimu sudah
berpijak seumur hidupmu dan Tuhan begitu baik membiarkan semestanya diinjaki manusia
sepertimu. Ya? Aku juga berterima kasih. Sama. Hanya saja semakin tua terima kasihnya. Sebab
aku, bayang-bayangku semakin pekat di depan pintu rumah ketika terjaga maupun tidak.
Sebenarnya tambah gila aku kalau sedang rindu. Huh! Jadi, biar aku bercerita kepadamu
ketika aku bersama bumi ya. Waktu dulu ketika bahkan aku belum tahu bumi akan menelanku.

***

Bumi itu serdadu. Mereka adalah panglima perang yang senantiasa menjagaku. Bertahun-
tahun sebelum ini, tentu saja. Ketika aku masih muda dan mataku tidak pernah kelihatan tidak
cantik. Masih kencang, kamu tahu? Ken-cang.
Malena, hari ini aku akan membawamu melihat surga. Bumi berkata kepadaku waktu
itu. Lantas siapa yang tidak mau diajak melihat surga?
Aku senang. Mukaku semringah. Tapi, Pram. Aku baru teringat sesuatu. Ada anak-anak
yang belum kita temui. Mereka muntah-muntah dan berjungkiran di pinggir stasiun. Beberapa
malam kemarin. Sudah parah.

Malena, aku lelah.
Itu kali pertamanya aku mendengar bumi lelah. Maksudku, Pram lelah. Sebelumnya ia
tak pernah mengeluh. Ia selalu semangat jika aku memberitahunya tentang hal apa pun yang
perlu diperbaiki di bumi ini. Termasuk anak-anak yang sering mabuk di pinggir stasiun. Mereka
bisa dibantu, kalau Pram mau.
Malam ini biar aku ajak kamu melihat surga. Oke? tanyanya tetap memaksa.
Sebenarnya aku juga ingin memaksakan kehendakku untuk membantu anak-anak yang
tadi kubilang. Tapi garis-garis kulit di wajah Pram mulai terlihat. Aku tahu ia kelelahan.
Bukankah sejak lama bumi menua dan butuh hiburan?
Baik, Pram, kataku mengalah. Tapi sehabis itu aku akan menemui anak-anak di
pinggir stasiun. Antarkan aku ke sana. Kamu boleh pulang lagi kalau lelah dan mau tidur.
Pram hanya mengangguk.
Malam itu pun aku bermobil di bawah taburan bintang bersama Pram. Aku tak pernah
menduga akan bisa melihat surga bahkan sebelum aku benar-benar percaya surga itu ada.
Kamu lihat bulan masih setengah, Malena? Pram bertanya setelah kami sampai ke
suatu tempat yang menurutku itu bukan surga.
Aku menjawab, Ya, Pram. Bulan masih setengah dan itu membuat tempat ini gelap.
Pram menatapku tak biasa. Ia mengatakan sesuatu, Begini, Malena. Sudah berapa lama
waktu kita habiskan untuk mengurusi hidup orang?
Aku balas menatap Pram dengan tak biasa. Bukan hidup orang, Pram, kataku tegas.
Itu hidup kita.
Baiklah. Hidup kita, kata Pram. Sudah berapa lama waktu kita habiskan untuk
mengurusi hidup kita?

Sudah sejak lama, jawabku. Jangan bertele-tele, Pram. Di mana surga? Kamu
membawaku ke sini untuk melihat surga, kan? Bukan untuk berdebat tentang kejenuhanmu.
Jangan jenuh, Pram. Kumohon. Sekarang di mana surga?
Muka Pram terlihat malas. Tadi kita sudah melewati surga, ujarnya.
Aku tidak melihat surga, sergahku spontan.
Malena. Lihat di sekitarmu. Pram menunjuk ke sekeliling. Itu adalah surga. Kamu
tidak perlu mati untuk melihat surga. Tadi kita sudah melewati surga. Sekarang pun kamu sedang
berada di surga.
Ah, kamu sudah gila, Pram. Kukira kamu benar-benar akan membawaku melihat surga.
Sekarang antarkan aku ke stasiun. Ini sudah larut.
Malam itu dingin dan aku merapatkan mantelku di dalam mobil ketika Pram mengemudi.
Kuperhatikan semakin malam bumi semakin diam. Aku sudah benar-benar yakin bahwa bumi
saat ini tidak sekadar kelelahan.
Terima kasih, kataku sesampainya di stasiun. Kamu boleh pulang, Pram.
Besok aku akan membawamu melihat surga lagi.
Terserah!
Aku pun turun dari mobil, kemudian berjalan agak terseok. Kegilaan tadi membuat
otakku seperti ditendang. Kemarin-kemarin bumi tidak pernah berlaku seperti itu. Malah aku
gembira sekali ketika kudapati dini hari beberapa ekor kucing sakit sudah berada di depan
rumah. Mereka sengaja dibawa Pram karena hampir mati. Entah ditemukan di mana, tapi
sekarang semua kucing itu tidak jadi mati karena kutitipkan pada beberapa kenalanku yang
pandai merawat kucing.
Aku tidak jadi pulang. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, Malena.
Saat itu aku sudah menghampiri segerombolan anak punk yang sedang mabuk. Pram tiba-
tiba muncul membawa beberapa helai selimut yang ada di mobilnya.

Biar aku yang bicara pada anak-anak itu. Aku akan menyuruhnya tidur dan mungkin
kutunggui mereka sampai pagi. Kamu kembali ke mobil, kata Pram. Jangan khawatir. Besok
tempat ini akan bebas dari bau alkohol dan anak-anak itu tidak akan kembali lagi ke sini.
Aku tersenyum. Tentu saja. Memang sudah begitu seharusnya bumi memperlakukan
anak-anaknya. Ah, Pram.
Esoknya tentu tempat itu sudah bersih. Pram selalu bisa mengatasi kesalahan kehidupan
yang kami temukan. Cuma aku masih bingung dengan konsep surga yang ada di kepalanya. Tapi
tak apa. Aku tetap mencintai Pram, bumi tempat aku tinggal dan mengurusi segala kehidupan.

***

Pram terpejam. Orang-orang sudah pulang. Saat itu aku belum tua. Tapi bumi memang
sudah lebih dari sekadar kelelahan.
Malena, kamu tidak pulang?
Itu kakaknya Pram. Ia bertanya padaku karena hari itu aku sendirian.
Sebentar lagi aku pulang, jawabku lesu.
Baiklah. Jangan berlarut-larut. Setelah ini bumi bisa mengurusi dirinya sendiri.
Aku tersenyum ketika kakak Pram pulang. Ia bilang setelah ini bumi bisa mengurusi
dirinya sendiri. Aku tak yakin. Maka dari situ aku sering menatap bumi, memerhatikannya dari
segala sisi sampai tua dan lupa. Aku iba. Bahkan kalau bumi bisa kelelahan, bagaimana aku?
Sore itu Adn meletakkan tangannya di kedua bahuku dari arah belakang. Kursi berhenti
bergoyang dan aku baru sadar sebentar lagi malam turun. Namun cangkir tehku masih penuh dan
mendingin di meja. Aku lupa meminumnya, Adn, maaf. Aku terlalu bersemangat bercerita sore
ini.
Waktunya nenek istirahat, kata Adn yang sudah bersiap membantuku bangkit dari kursi
goyang.

Adn tampan. Sesekali aku melihat bibir Pram yang tersenyum kepadaku di wajahnya.
Pram, bumiku, kamu sudah lama meninggalkanku. Bumi hancur semenjak kamu pergi.
Dan aku hanya menua di depan rumah. Bersama bayanganku dari kursi goyang dan cucu kita,
Adn. Kamu masih setia menungguku kan, Pram?

Winda Rahma
Bandung Barat, 15 April 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *