Bikin Puisi Saat Hari Puisi Nasional?

Pada tanggal 28 April 2018 merupakan sebuah hari untuk memperingati puisi nasional. Begitu pula GSSTF sebagai UKM yang bergerak dibidang seni salah satunya yaitu sastra, ikut memperingatinya dengan cara menulis beberapa puisi oleh masing-masing anggotanya. Bagaimana sih puisi-puisinya? Langsung cek dibawah ini ya!

Dewi

Membasuh-basuh luka sepanjang dalam tentang suka di penghujung usia
Jari-jari melentikkan kata-kata seraya mencium bau bibirmu di ujung nestapa
Dewi; sampai kapan kau akan tinggal dengan segala janggal?
Dewi; sampai kapan kau akan tetap meski semua menatap?
kita begitu sama–tanpa beda dan takada jeda, hanya suara-suara kita yang tak jemu menyayikan lagu tentang kita. dan tiada.

Dewi kupanggil dirimu dewi, menari-narilah dalam gelap dan kerlap hingga lelap
Kita ialah penghujung usia yang menjadi susah-susah dan sudah-sudah
Dewi; apakah masih ada hidup untuk kita?
Jalan menjadi lurus, seperti mengangkasa tapi tak terurus, hidup menjadi indah tapi membuat kita penuh dengan gundah
Dewi kupanggil dirimu dewi, terus menari-narilah sampai kau lupa. kita telah sama-sama menjadi abadi di dalam hati kita sendiri.

(Dzikri Maulana,2018)

—————–###—————-

Tanyakan

Sebelum kau asah sebilah pedang itu, tanyakan lagi pada daun, pada bunga, pada udara yang kembara, saat cintamu padanya masih membara.

Jika nafasmu ragu dalam desah kesatu, maka kau kalah sebelum waktu beradu. Kau tidak ingin membunuhnya, karena kau tahu, kau hanya ingin menyakiti gilamu, dan cintamu yang tertawa gila bersama egomu. Kau ambigu, dan selalu begitu.

Sebelum kau datangi kamarnya untuk memisahkan nyawa dari raganya, tanyakan lagi pada awan, pada hujan, pada kebersamaan yang telah kau jahitkan pada rajutan baju hangatnya yang selalu ia pakai saat kedinginan. Tanyakan.

(Trisha Adelia)

—————###——————

Mawar

Ada senja di pelukanmu
Yang tak sempat kurengkuh
Yang menutup hari-hariku

Ada rembulan di balik mantelmu
Yang diam-diam aku kagumi
Terang menghimpit lembah gelap
Biarkan aku menyelinap

Mengapa
Mawar yang kuhirup selalu milik orang lain
Bolehkah tuan lepaskan sejenak?
Agar aku bahagia

Oh mawar
Kau bunga nan berduri
Kau ialah keindahan
Yang ingin kubuat abadi

(Ahmad Maula)

——————-###——————

AZALEA

Hai, Azalea.
Aku bukan riak yang tengah kau bicarakan
Kau tahu? Aku hanya belukar tepat disamping engkau yang mekar megar
Bagaimana menurutmu? Bisakah aku menyilihkan gelombangmu?
Kau tiada tahu bahwa aku selalu sendu melebihimu
Selalu jadi yang terapuh juga sudah lumpuh
Sebenarnya aku ingin tudingkan semua kisahku
Bahkan usah dipikirpun aku ingin menangkap ceritamu
Tentangmu.
Kendati ragu bahwa sekiranya aku mengerti.

Azalea.
Bolehkan aku melingkari engkau dan sekarmu
Maka tiada bagi engkau terhanyut terombang
Sampai terbawa ombak ke ujung petang
Lantaran kau yang nyaris layu ku jelang ku topang
Lantas sekarang bagaimana? Aku malah hanya titipkan salam pada seranggamu yang berlalu
Penat memendam kagum yang kuujarkan diam-diam.

Azalea.
Bolehkah aku lebih mengenalmu?
Lalu impikanlah aku bersama harapmu
Dengar? Aku pengecut yang menyapamu lengang tanpa hirau engkau tidak atau tahu
Juga tanpa sadar aku kerap mengeja celotehmu yang ku terka-terka apa maksudmu.

Azalea.
Dengar? Kelak kujumpakan apa yang lebih jelita ketimbang senja
Sebentuk warna-warni terang dibawah malam gulita. Sepertimu. Padamu.
Aku jatuh hati, Azalea.

(Afdal Busra: 8 April 2018)

——————-###——————

Ibu

1.
Pagipagi
Kucari ibu. di
Kolong ranjang dapur
Dan celana dalam bapak.
Tapi tak ada

2.
Siang.
Kutemukan ibu tidur dalam puisi yang
Dibikin anaknya malam tadi.

(Rendy, 2018)

——————-###——————

Puisi

ada yang berontak
kemudian meledak

ada yang lenyap
kemudian senyap

ada yang sembunyi
kemudian pergi

ada; puisi

(Nigina; Jatinangor, April 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *