Menjadi Gila Melalui Novel “Veronika Memutuskan Mati” Karya Paulo Coelho

Pertama kali saya membaca judul novel ini, saya pikir akan bertemu tokoh yang putus asa dan depresi karena kisah menyedihkan yang menimpanya, sehingga dia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tapi ternyata saya keliru. Novel ini justru mengisahkan tokoh yang memiliki kehidupan normal dan tidak mengalami kisah menyedihkan dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran normal saya adalah pemikiran yang dimiliki orang pada umumnya. Saya rasa semua orang yang membaca judul novel ini akan memiliki pemikiran yang sama dengan saya.

Kehidupan normal yang dimiliki tokoh justru menjadi penyebab dia memutuskan untuk bunuh diri. Dia merasa hidupnya yang berjalan normal-normal saja akan mwnjadi sangat menjenuhkan. Betapa bosannya hidup ini jika terus melakukan hal yang sama sampai tua nanti. Betapa tidak menggairahkan hidup ini. Hal ini mau tidak mau membuat saya memikirkan juga kehidupan saya. Benar, semua hal selalu terjadi berulang setiap harinya. Diawali dengan bangun tidur sampai menjelang tidur di malam hari. Bagi seorang pelajar, hidup tidak jauh dari sekolah-mengerjakan tugas-mempersiapkan ujian. Bagi seorang pekerja, hidup tidak jauh dari berangkat kerja-istirahat makan siang-pulang kerja. Bagi ibu rumah tangga, hidup tidak jauh dari menyiapkan makan-mengurus anak-membereskan rumah. Hidup selalu berputar. Itu adalah keadaan normal yang sudah diciptakan oleh manusia. Jadi pertanyaannya adalah apa definisi normal? Apakah normal itu adalah keadaan yang dianggap wajar oleh semua orang?

Selanjutnya Coelho membuat novel ini lebih banyak berlatar di rumah sakit jiwa. Karena percobaan bunuh diri yang gagal membuat tokoh harus berada di tempat tersebut. Ya, tokoh telah melakukan hal yang menyimpangyang dianggap tidak normal dan tidak sesuai dengan pandangan umum. Setiap hal yang menyimpang dari pandangan umum selalu dianggap gila. Saya jadi teringat kisah para nabi. Kebanyakan nabi ditentang oleh umatnya karena menyebarksn ajaran yang berlainan dengan kebiasaan masyarakat pada masanya. Kisah Nuh yang ditertawakan karena membuat bahtera padahal jauh dari laut, kisah Ibrahim yang dibakar karena tidak mau menyembah apa yang disembah masyarakat, atau kisah Muhammad yang dimusuhi oleh kaumnya setelah menyebarkan ajaran Islam secara terang-terangan. Masyarakat cenderung tidak menerima hal yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan kolektif. Dari novel ini saya berkesimpulan bahwa menjadi normal bukan berarti menjadi benar.

Novel ini juga membuat saya berpikir bahwa rumah sakit jiwa adalah satu-satunya tempat yang menyediakan kebebasan di dunia ini. Memang di sana juga pasti ada beberapa aturan yang harus ditaati. Tapi aturan hanya untuk mereka yang waras. Bukankah penghuni rumah sakit jiwa kebanyakan adalah orang-orang gilaorang yang menyimpang dari kehidupan normal masyarakat. Orang gila mana yang masih memikirkan aturan? Mereka hidup dengan dunia masing-masing. Tidak peduli pada aturan yang diciptakan. Justru yang menjalankan aturan itu adalah orang-orang yang masih warasyang tidak menyimpang dari kehidupan normal pada umumnya. Orang gila adalah orang yang paling bebas. Meskipun mereka terkurung di rumah sakit jiwa, tapi mereka bebas melakukan apapun. Toh orang telanjur menganggap mereka gila, apapun yang dilakukan pasti hanya akan mendapat komentar dia gila.

Banyak hal di dunia ini yang tanpa kita sadari membuat kita harus mengikuti arus yang sudah ada. Pandangan masyarakat tentang segala hal yang sudah dianggap normal membuat kita juga berpikir seperti itu tanpa memikirkannya lebih jauh lagi. Bahwa masuk rumah harus selalu lewat pintu, bahwa sepatu dipakai di kaki, bahwa jas hujan dipakai ketika hujan.

Hanya ada dua kemungkinan manusia, yaitu mereka yang hidup di dalam arus, atau hidup melawan arus dan dianggap gila.

Cikalongwetan, 27 Agustus 2018

Oleh Nigina Aulia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *