Menyumpal Mulut Pedagang yang Marah

Kakinya pasti patah. Itu pun masih beruntung nyawanya mengendap-endap ketika diperhatikan orang-orang. Kuda itu hampir satu kilometer mengamuk, berputar-putar, dan meninggalkan sebuah andong terguling di dekat Malioboro. Tapi kusirnya tak tampak lagi setelah ikut terperosok ke jalan bersama pecutnya. Beruntung juga tidak ada penumpang duduk di andong itu.

Durman adalah peranakan Sunda yang siang tersebut meminum kopi tanpa mengenakan baju karena hawa selalu panas di Yogyakarta. Ia tidak jadi menghabiskan kopi karena Kusno tiba-tiba muncul sambil bercucur keringat ke hadapannya.

Ada apa? tanya Durman setelah meletakkan gelas di meja. Saat itu ia sedang duduk di depan kamar kontrakannya. Di terasnya memang ada meja dan kursi sederhana untuk tamu.

Kudaku. Kusno ngos-ngosan. Mukanya yang hitam terbakar matahari mengatakan pada Durman kalau Kusno butuh bantuan. Lepas itu ke jalan. Rusak semua dagangan orang-orang. Bantu aku, Man. Aku nggak punya uang.

Mimik wajah Durman mengaduh mendengar masalah Kusno. Durman seharusnya bisa istirahat setelah mengecor semen di rumah ibu kontrakan. Namun Kusno akan terus meminta pada Durman untuk membantunya sebagaimana Durman memang suka membantu Kusno. Durman hanya berharap hari ini masalah Kusno tidak seberapa.

Sebentar, kata Durman berusaha tenang. Ia coba membayangkan apa yang terjadi dari potongan kalimat yang diceritakan Kusno.

Kudaku. Lepas itu ke jalan. Rusak semua dagangan orang-orang.

Sepertinya terbayang. Kusno yang belum lama mendapat warisan andong dari Bapaknya, berhasil membeli kuda hasil menabung bersama istrinya. Kemudian hari ini kuda itu lepas? Durman pun mengenakan kembali kaus bekas bekerjanya yang basah keringat.

Di mana? Durman bertanya. Ia tampak sudah mau membantu Kusno. Ia lebih dewasa walaupun secara umur nyata lebih muda dari pada Kusno.

Kudanya belok ke Panembahan Senopati. Kusno panik tapi senang karena Durman mau membantu. Walau begitu ia tidak mampu menceritakan secara panjang. Dalam hatinya, Kusno menebak bahwa masalah akan diselesaikan oleh Durman. Aku mau kasih tahu istriku dulu, lanjutnya.

Larilah Kusno dari hadapan Durman untuk pulang ke istrinya, sedangkan pria Sunda berusia dua puluh lima tahun, yang baik pada Kusno itu, berdiri mau menuju ke Jalan Panembahan Senopati sambil geleng-geleng kepala.

Durman siang terik itu, sambil berjalan, tahu kerusakan-kerusakan terjadi di jalan karena ditubruk kuda Kusno yang lepas. Dua pedagang suvenir yang berdampingan, dagangannya bercampuran di jalanan. Etalase minuman, oleh-oleh, pakaian, makanan juga berantakan. Durman tidak habis pikir diapakan kuda Kusno itu sampai mengamuki semua pedagang.

Tadi Kusno pergi sebelum ditanyai kenapa bisa kudanya lepas ke Panembahan Senopati. Sementara itu pedagang-pedagang di Margo Mulyo sebagian tahu Kusno dan tahu Durman. Saat Durman melewat, semua orang menanyai Kusno.

Mereka marah dan mengumpat. Kabar baiknya Durman memiliki perangai santun sehingga pedagang-pedagang selanjutnya marah tidak keras-keras pada Durman. Pria itu berhasil mengajak bicara secara dingin siapa saja yang marah di sana. Cuma pedagang ada saja sepanjang jalan. Durman sepanjang jalan berbicara menenangkan orang-orang serta merapikan dagangan yang berjatuhan.

Orang-orang di sana berbahasa Jawa. Kusno juga orang Jawa. Tapi Durman sedikit tahu bahwa bermasalah dengan kehidupan di jalan tidak serta-merta selesai menggunakan bahasa Jawa. Orang-orang itu adalah perantau, sama seperti Durman. Ketika mereka marah, Durman menghadapi yang lain lagi.

Durman pun menghela napas panjang. Ia baru berdamai dengan dua orang tukang tas rajut dari Padang. Tapi sampai kapan tiba di Panembahan Senopati? Bahkan andong Kusno saja belum terlihat tersungkur di mana-mana.

Kalau Kusno yang menghadapi pedagang-pedagang yang marah, Kusno bisa balik marah. Tapi ya hanya marah sebab Kusno itu bodoh. Durman saja tidak tahu apa Kusno sudah mencari kudanya atau belum. Selepas bertemu dengannya kan, Kusno malah mencari istrinya. Padahal kalau kudanya kabur, Kusno kehilangan uang. Uang itu seharusnya bisa dipakai bayar ganti rugi.

Ini sampai gerobak tukang es kacanya pecah dan isi tabung-tabung berhamburan, berarti kuda Kusno sangat mengamuk. Durman masih berlapang dada kalau hanya tumpukan baju yang berjatuhan karena masih bisa dikembalikan dengan rapi. Tapi kalau sudah barang pecah-pecah atau bakpia hancur di jalan, Durman masih memikirkan kembali bagaimana mengganti semua itu. Durman mau membantu tapi tidak memakai uang karena ia juga tidak punya uang.

Tapi semua orang marah. Terutama setelah tahu bahwa kuda yang mengamuk adalah milik Kusno. Beberapa dari pedagang memang tidak suka Kusno. Mereka sudah diajak bicara dan dirayu-rayu Durman. Sayang, para perantau itu bisa berhaik hatinya pada Durman saja, sedang tidak pada Kusno, apalagi istrinya.

Kamu sudah baik mau bantu beres-beres. Tapi Kusno tetap ganti rugi.

Mbah Adek yang dari ujung Sumatera itu punya pengaruh besar di sekitar para pedagang. Di awal, Durman senang karena sudah berdamai dengan beberapa orang. Hanya, dari mulut ke mulut para pedagang itu bilang bahwa Mbah Adek tetap mau Kusno ganti rugi. Durman padam dengan rambut kusut karena pada akhirnya semua yang mengalami kerugian minta ganti rugi pada Kusno. Ikut-ikut Mbah Adek.

Ini ke mana si Kusno!?

Anak Sunda itu sudah merapikan dagangan-dagangan. Ia merasa sia-sia sudah membantu Kusno kalau pada akhirnya tetap yang mendamaikan keadaan adalah uang.

Durman juga tahu Kusno tidak punya uang. Menjual andong dari bapaknya saja tidak akan laku karena beberapa saat kemudian Durman melihat andong itu jungkir balik dan diboikot ibu-ibu.

Lalu bagaimana bisa Kusno mau menyumpal mulut pedagang-pedagang itu agar diam?

***

 

Kakinya pasti patah. Itu pun masih beruntung nyawanya mengendap-endap ketika diperhatikan orang-orang. Kuda itu hampir satu kilometer mengamuk, berputar-putar, dan meninggalkan sebuah andong terguling di dekat Malioboro. Tapi kusirnya tak tampak lagi setelah ikut terperosok ke jalan bersama pecutnya. Beruntung juga tidak ada penumpang duduk di andong itu.

Sudah jelas kudanya cedera. Bokongnya juga lecet karena ia menabrak sana sini. Kuda itu baru berhenti berputar-putar setelah menabrak becak-becak yang menepi di Panembahan Senopati.

Orang-orang yang tadi menghindar ketakutan di sana, kini mengerubungi kuda yang malang.

Itu kuda Kusno.

Sudah mau mati, kata salah seorang tukang becak.

Kuda siapa?

Semua orang ribut di Panembahan Senopati menyaksikan kuda. Kabar belum sampai sana kalau pedagang-pedagang di dekat Malioboro marah-marah.

Jalanan sedikit macet karena orang-orang itu belum meminggirkan kuda milik Kusno.

Tiga orang polisi kemudian datang dan mengamankan jalan. Kuda ditarik ke pinggir karena sudah tidak bisa berdiri lagi. Kuda itu bukan kelelahan. Tapi kakinya memang patah telah menubruk segala macam benda yang ada di pinggir jalan. Manusia tidak ada yang tertabrak karena bisa lari seperti kuda lari.

Selama kuda masih ada di sana, orang juga masih berkerumun di sana: anak-anak, tukang becak, wisatawan, juga pengendara jalan. Kuda Kusno besar dan kalau terkapar memang menarik banyak perhatian. Juga rintihannya membuat kasihan.

Sementara di Margo Mulyo, saat itu Durman masih merayu-rayu pedagang dan membereskan apapun yang berserakan. Tandanya Kusno juga sudah berlari dari kontrakan Durman dan menemui istrinya.

Tapi kemudian Kusno dan istrinya lebih dulu datang ke Panembahan Senopati dibandingkan Durman.

Kusno mengaku pada polisi bahwa ia adalah seorang kusir yang baru saja membuat keributan di dekat Malioboro, menghancurkan banyak dagangan, dan berniat membawa pulang kudanya.

Baru setelah itu tidak ada lagi orang berkerumun. Kusno membawa kudanya dengan mobil bak dibantu oleh istrinya dan polisi.

Kusno tidak tahu soal Durman yang menenangkan para pedagang di jalan seperti apa susahnya. Ia juga tidak tahu gara-gara Mbah Adek, semuanya jadi minta ganti rugi.

Istri Kusno hanya bilang sebaiknya mereka segera membawa kuda ke Pleret, Bantul. Pedagang-pedagang yang merantau itu sebenarnya bisa disumpal jika Kusno ke Pleret.

Biarkan dulu si Durman itu yang urus pedagang-pedagang yang mabok. Kita urus dulu kuda ini, Mas. Begitu kata istri Kusno.

Maka ketika Durman tiba di Panembahan Senopati dan bertanya pada orang-orang, kuda memang sudah meluncur ke arah Bantul bersama pemiliknya. Jalan Panembahan Senopati sudah baik-baik kembali.

Namun Durman yang baik hati juga akhirnya mengumpat. Sebenarnya ia tak sabar untuk menyampaikan pada Kusno bahwa malam ini para pedagang akan mendatangi rumah Kusno. Walaupun Durman belum sempat menyampaikan, ternyata kabar itu sudah sampai kepada Kusno ketika masih di Pleret. Kabar burung memang cepat sekali tersebarnya.

Istri Kusno bilang kalau di tanah kelahirannya ada orang marah-marah, bisa saja itu dilerai dengan bahasa sehari-hari. Tapi sulit kalau menghadapinya dari pendatang-pendatang seperti di Malioboro, Beringharjo, dan sekitarnya. Jadi, Kusno disarankan untuk tidak berbicara kepada mereka seperti Durman berbicara. Kabar bujukan Durman ditolak Mbah Adek juga sudah sampai sejak Kusno masih di perjalanan menuju Pleret.

Ya bagaimana lagi menghadapi orang-orang yang marah? Ini sudah bisa menyumpal mulut-mulut mereka, Mas.

Istri Kusno menyiapkan hidangan di rumahnya.

Perihal para pedagang yang mau menemui Kusno memang benar. Malam harinya mereka berkumpul setelah menutup kios-kios dan gerobak.

Durman tidak sempat bertemu Kusno sebelum malam tiba.

Orang-orang marah itu pun sampai dan mengetuk pintu rumah Kusno yang menyala. Betul saja di dalam rumah istri Kusno sudah menyiapkan banyak makanan. Makanan itu cukup untuk semua pedagang yang disundul kuda Kusno siang tadi.

Hanya hingga masuk ke dalam rumah Kusno, Durman tidak juga bertemu pemilik rumah atau istrinya. Pedagang-pedagang jadi ribut lagi di halaman.

Semua baru bisa diam setelah Mbah Adek bilang Kusno menyiapkan makanan untuk dibawa pulang.

Berarti Istri Kusno tidak salah lagi ketika kembali dari Pleret, ia sudah bisa menyumpal mulut-mulut para pedagang yang marah.

Mereka membawa makanan-makanan itu pulang dan diam.

Begitu hanya Durman yang menyadari Kusno dan istrinya kembali dari Pleret membawa begitu banyak makanan. Namun setelah menghidangkannya, mereka mengosongkan rumah. Rupanya sepasang suami istri itu menjagal kuda yang cedera jika tidak bisa menjual andong warisan keluarga. Durman disisakan dua bungkus sate kuda.

Ia gembira, tapi mengata-ngatai. Gembira karena Kusno pergi dan mengata-ngatai karena Kusno bodoh.

Kusno dan istrinya bodoh.

Menyumpal pakai sate kuda itu ya besok mereka lapar lagi.

Tapi mungkin Kusno memang tidak punya apa-apa lagi. Melainkan kuda yang terkapar di Panembahan Senopati dan mau mati.

 

 

Winda Rahma

Yogyakarta, 18 Oktober 2018

Juara Harapan 1 Pekan Seni Mahasiswa Nasional XIV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *