Tentang Kami

Logo-114Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF), yang terbentuk pada 13 Oktober 1984, merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa di bidang seni khususnya seni sastra, teater dan film di Universitas Padjadjaran. UKM ini merupakan wadah bagi mahasiswa yang berniat untuk beraktivitas, menyalurkan ide-ide kreatif dan menggali potensi dalam bidang kesenian sebagai penerus keluarga besar mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Dalam perjalanannya, GSSTF berusaha menghadirkan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan dan pola kehidupan mahasiswa yang setiap tahun mengalami perubahan, dengan tidak meninggalkan esensinya yang terdiri dari divisi sastra, teater, film dan satu tambahan divisi terbaru yaitu artistik, guna menyeimbangkan keindahan seni.

AWAL TERBENTUK DAN SEJARAH GSSTF

Pada Orde Baru ketika kekuasaan Soeharto, dewan mahasiswa seperti BEM dan lainnya dibekukan dan diganti menjadi Badan Koordinasi Mahasiswa (BKK). Hal ini menyebabkan kekosongan kegiatan-kegiatan mahasiswa diluar akademik. Pada 1981, Universitas Padjadjaran ditawari BUMN untuk melakukan pagelaran kebudayaan Sunda di Sumatera. Karena tingginya semangat dan didukung dengan rasa bosan tanpa kegiatan, sepulangnya dari pegelaran tersebut tercetuslah ide untuk mendirikan kelompok kesenian sunda yang kemudian diberi nama Lingkung Seni Sunda (LISES). LISES berhasil menjadi magnet kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa di Unpad karena pada saat itu LISES merupakan UKM pertama dan satu-satunya. Salah satu agenda tahun LISES adalah membuat Pagelaran Kolosal yang pertama kali diadakan tanggal 20 februaru 1982.

Pada 24 Maret 1983 yang bertepatan dengan hari Bandung Lautan Api, LISES ditawari untuk menjadi bagian oratorium Bandung Lautan Api dengan menampilkan teater berbahasa Indonesia. Kemudian, Ade Kosmaya, Ketua Jurusan Sastra Indonesia membentuk pertunjukan Sangkuriang dan dibantu Bambang Budiasmara, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, sebagai Asisten Sutradara. Lepas dari kegiatan tersebut, terbesutlah ide untuk membuat grup Teater di Unpad.

Begitu banyaknya minat anggota, maka grup Teater tersebut sengaja dilengkapi dengan unsur-unsur Sastra dan Film. Setelah melalui rapat dan diskusi panjang, akhirnya dibentuklah sebuah UKM yang diberi nama Gelanggang Seni Satra Teater dan Film. 13 Oktobr 1984 menjadi tanggal peresmian GSSTF. Ade Kosmaya dan Bambang Budiasmara lah yang menjadi konseptor awal terbentuknya GSSTF.

Seiring berjalannya waktu, GSSTF pun kian berkembang hingga lahirnya divisi baru yaitu Divisi Artistik. Divisi Artistik merupakan pengembangan divisi Keroncong, dimana musik keroncong GSSTF sempat berjaya di masanya.

Musik keroncong di GSSTF pertama kali dicetuskan oleh Imam D. Kamus. Imam awalnya merupakan anggota band dengan aliran punk yang sudah melanglang buana di dunia musik. Ketertarikannya akan keroncong mendorongnya untuk mendirikan orkes keroncong di GSSTF. Hingga pada tahun 1994, bersama anggota lainnya, Imam mendirikan Orkes Keroncong Rindu Order.

Keroncong Rindu Order

Hingga tahun 2010, divisi keroncong telah turut meramaikan pentas panggung GSSTF. Namun, Kepala Divisi Keroncong, Dimas Pamungkas, merasa musik keroncong terlalu mengerucut. Setalah diskusi panjang, akhirnya divisi keroncong diubah menjadi divisi musik dengan maksud agar anggota lebih dapat bereksplorasi lebih jauh di bidang musik. Divisi musik diharapkan dapat membantu produksi film dan teater, seperti pembuatan soundtrack, theme song untuk film dan musik untuk membangun emosi para aktor di teater.

Tahun 2014, dibawah kepemimpinan Lurah Hilaria Norma, divisi Musik kembali dikembangkan menjadi divisi Artistik yang mencakup Musik, Tata Rias dan Busana serta Tata Panggung dan Properti.

KARYA GSSTF

Dimasa awal terbentuk hingga akhir tahun 90-an, GSSTF dikenal telah membuat kumpulan Puisi Ombak Padjadjaran yang merupakan kumpulan puisi dari anggota yang telah menerbitkan puisi-puisinya di media cetak. GSSTF juga telah mementaskan banyak pementasan Teater. Untuk film GSSTF belum menghasilkan karya karena keterbatasan, namun GSSTF sering melaksanakan diskusi film dan mengikuti workshop-workshop Film.

Berikut beberapa karya GSSTF yang tercatat dari tahun 2013 keatas, yaitu; Puisi ASA (karya anggota); Naskah, Takdir. Pengakuan. Halte karya Choi. Pemenang lomba penulisan naskah Teater Djati; Lagu ASA (lirik dari puisi, aransemen dari Dimas dan Fabian); Lagu Kaki Kecil (lirik dari Syahan Yulizhar, aransemen oleh Dimas. OST teater Titik Nol); Lagu My Name is Lonely (OST Hal Terakhir); Theme Song STIGMA 3; Lagu OST Mayat Terhormat”; Lakon Di Hiji Tempat Nu Biasa dalam FDBS; Lakon Malam Jahannamdalam Parade 2014; LakonOrang Kasar dalam Parade 2014; Lakon Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi dalam Konvergensi Seni; Lakon Titik Noldalam kurasi Festamasio 7; Lakon Takdir. Pengakuan. Halte dalam Parade GSSTF 2015; Monolog TOLONG dalam Parade GSSTF 2015; Monolog Mayat Terhormat dalam STIGMA 4; Monolog Joni dalam Konvergensi Seni; Film Hal Terakhir dalam Festival Film Solo 2013; Film Firmavartus dalam Parade 2014; Film Hope(s) dalam Parade GSSTf 2015; Film Entitas Konsesi dalam Parade GSSTF 2015; Musikalisasi Puisi ASA dalam Parade GSSTF 2015; Teaterikal Puisi Malu Aku Jadi orang Indonesia dalam PARADE GSSTF 2015; Musikalisasi Puisi “Di Matamu” dalam Ulang Tahun Djati; Monolog “Aku Bukan Maling” pada Concours Du Monologue 2015; Pantomim “Orasi Seorang Pengangguran” dalam HERSTORY 2016; Lakon “Dayeuh Simpe” dalam FDBS 2016; Film “Spasi“; Film “Nada“. Film “Sugar On Camera” Pada Parade GSSTF 2016 ; Puisi “Narasi Malam” Pada Parade GSSTF 2016 ; Fim “Aku Rasa Aku” Pada Parade GSSTF 2016 ; Monolog “Selamat Makia” Pada Parade GSSTF 2016 ; Teater “Hilang Guna” Pada Parade GSSTF 2016 ; Film “Angklah” Pada Parade GSSTF 2016 ; Teater “Hilang Guna” Pada Festamasio 8 Makassar ; Teater “Budak Cinta” Pada Parade GSSTF 2017 ; Film “Tanah Lapang” Pada Parade GSSTF 2017 ; Musikalisasi Puisi “Cinta Yang Marah” karya Aan Mansyur Pada Parade GSSTF 2017 ; Film “Terungku” Pada Parade GSSTF 2017 ; Teater “Pusa Liana” Pada Parade GSSTF 2017 ; Film “Rahim” Diadaptasi dari karya Cok Sawitri Pada Parade GSSTF 2017 ; Pengadeganan Cerpen karya W.S. Rendra “Hantu-hantu Yang Malang” Pada Parade GSSTF 2017 ; Monolog “Bangsat” karya Taufan S. Candranegara Pada Parade GSSTF 2017.

PRESTASI GSSTF

– Penyaji terbaik 2 Festival Monolog Mahasiswa Nasional STIGMA 1 Makassar

– Nominasi aktor terbaik Festival Monolog Mahasiswa Nasional STIGMA 2 Samarinda

– Nominasi penata lampu terbaik Festival Monolog Mahasiswa Nasional STIGMA 2 Samarinda

– Terpilih sebagai tuan rumah Festival Monolog Mahasiswa Nasional STIGMA 3

– Nominasi Naskah Terbaik dalam Festamasio 7

– Lolos Kurasi Festival Monolog Mahasiswa Nasional “STIGMA” 4 Palembang

– Lolos Kurasi Festival Teater Mahasiswa Nasional “FESTAMASIO” 8 Makassar

NB: Semua prestasi tingkat nasional

ALAMAT

Kompleks Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Barat, Universitas Padjadjaran Jatinangor.

Jl. Bandung – Sumedang KM 21, Jatinangor.

email : gelangganggs@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *