You’re My Coffee

Ada apa dengan malam hari, udara dingin, dan secangkir kopi? Mereka sepertitak dapat dipisahkan. Berkolaborasi membuai sampai kitaselalu lupa waktu, bahkan kenyataan. Aku pun selalu begitu. Ketika malam menemuiku, aku selalu berkhayal udara berubah hangat dan menghabiskan seluruh stok kopi di coffee bar ditemani alunan Fur Elise sampai aku overdosis kafein. Aku selaluingin larut ke dalam cairan hitam pekat nan pahit itu.

Akan tetapi, ada malam-malam tertentu dimana udara dingin berpamitan dan aku menyisakan ruang lebih di WayEl Cafetempat yang kukunjungi setiap malam. Aku punya distraksi lain. Seorang lelaki dengan mata sehangat matahari pagi dan senyum manis yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Malam ini, dia akan datang.

Gerimis mulai merintik, dan aku semakin mundur ke bagian dalam halte agar tak tersentuh air hujan. Pukul 19.00 aku merapatkan jaketku, dan tak lama kemudian satu bis berhenti di depanku untuk menurunkan penumpang. Aku mengedarkan pandangan pada orang-orang yang berhamburankeluar pintu bis. Lalu aku melihatnya dengan coat cokelat tua membawa buket bunga matahari melambaikan tangan padaku. Usianya hampir seperempat abad tapi raut wajahnya sepolos
remaja.

Dia mengampiriku dan aku tak bisa menahan diri untuk menghambur padanya. Memeluknya erat. Seakan semakin erat pelukanku, maka semakin aku bisa menyampaikan bahwa aku sangat merindukannya.

“Kak Cavin…”

Pria favoritku bernama Cavin, dan dia sangat tampan. Aku ingin menghirup aroma harumnya sebanyak yang aku mau, tapi dia melepaskan pelukannya dan tangannya yang bebas menyentuh tanganku.

“Dingin,” Cavin mengernyitkan dahinya. “Kau menunggu berapa lama, hm?”

“Aku selalu menunggumu. Mengapa kau bertanya begitu?”
Cavin terkekeh mendengarku, lalu memindahkan buket bunga di tangannya ke tanganku. Aku senang, dia mengingat bunga favoritku.

“Selamat wisuda, Lilian.” Mata cokelatnya memandangku, dan aku ingin larut seperti yang selalu kukhayalkan pada kopi-kopi hitam yang tak dibuang ampasnya. “Dan maaf, karena tidak datang ke wisudamu.”

Hujan semakin deras dan kami masih di bawah atap halte bis. Suara hujaman air dia atas aspalberhasil merilekskan otakku dan menyajikan ingatan yang membuatku tergelitik. “Diingat-ingat, aku juga tidak datang ke wisudamu tiga tahun lalu. Jangan-jangan alasan kita sama.”

Cavin tidak menjawab, dan hanya memberikanekspresinya yang tak bisa kutafsirkan. Aku bahkan tidak ingin melihat lebih jauh ke dalam pikirannya. Aku senang karena kehadirannya, lebih daripada yang bisa dibayangkan.

Setelah beberapa menit, akhirnya kami memutuskan menembus tirai hujan. Tidak ada payung, dan terlalu dekat untuk menggunakan taksi ke apartementku.

 

Cavin adalah jenis kopiku yang lain. Aku selalu ingin menyesapnya dan menandaskannya. Aku selalu menginginkannya lebih dari apa yang bisadia berikan.

 

Malam ini, udara dingin berkhianat karena dia kembali lagi, entah bagaimana. Tidak ada kopi, tapi ada Cavin. Aku tidak memasang penghangat ruangan tapi aku memiliki ranjang yang tak pernah kuduga akan tersentuh oleh Cavin. Di situ, kami saling menghangatkan. Kami tak berbicara tapi segalanya mengalir begitu saja. Aku cukup senang pada bagaimana ini bisa terjadi. Sunyi tak bisa kupaksa untuk berhenti membuatku intropeksi bahwa ini adalah sebuah dosa.

Persetan…

Aku hanya ingin menyatukan diriku bersama Cavin sedalam-dalamnya. Aku ingin tersesat ke dalam keadaan seperti ini selama-lamanya. Bila selimut bisa berbicara, dia akan mencibirku karena malam ini aku mencampakkannya setelah malam-malam sebelumnya aku tak lepas meringkuk di bawahnya, merindu kedatangan Cavin setiap sebelum tidur. Namun pemilik rindu itu sudah datang, menawanku, pada kesalahan yang kutafsirkan menjadi kenikmatan, yang mengubah gelisah menjadi desah di malam yang istimewa ini.

Aku menyukainya. Aku menyukai caranya menatapku dalam getir, dan menyentuhku dengan getar. Aku bisa merasakan keraguan yang bertarung dengan nafsu di ujung jemarinya yang bermain di atas kulitku. Matanya membawaku pada ruang berkabut, tapi kali ini aku menahan diri untuk tak tersesat ke dalamnya.

Permainan semakin hebat dan aku tak bisa membendungnya. Malah aku menghasut Cavin untuk terus membawaku ke puncak yang lebih tinggi, lagi dan lagi. Aku menyerahkan diriku di bawahnya,walau begitu, pengaruhku masih kuat saat kubisikkan rayuanku di sisi lehernya.

“Aku minta maaf,” lirih suaranya ketika api gairah kami mulai mereda.

“Untuk apa?” Sulit sekali mengatakan itu dengan lancar tanpa terpotong helaan nafas.Dua pasang tangan kami tak henti bergerilya, nakal tapi tetap tenang. Aku masih meluruskan netraku pada iris cokelatnya yang sendu.

“Untuk ini. Untuk yang sedang terjadipada kita.”

Aku menghentikan tangannya dan menggenggamnya, lalu dia mengecup tanganku. Kami berhenti sejenak.

“Aku mencintaimu, Kak Cavin.”

Tak ada suara lagi setelah itu, tak ada pergerakan lagi. Kami sibuk menyelami pikiran masing-masing yang terpisah jarakkesenduan. Lantas bibirku menghampiri bibirnya. Aku menyesal karenaentah mengapaciumanku seakan mempertegas bahwa aku terluka.

Aku sangat terluka.

Dering ponsel memisahkan pertautan kami, dan atensi kami berpindah padanya. Tangan Cavin menggapai ponselnya di atas nakas, lalu melihat nama penelepon dan melirik sejenak padaku sebelum dia mengangkatnya.

“Halo.” Cavin mendudukan dirinya, sedikit meringis saat ranjang berderit karena pergerakannya. “Belum. Sepertinya agak pagi. Aku akan segera menyelesaikannya dan pulang.”

Aku tak bisa melihat wajah Cavin saat berbicara, dan aku tak ingin tahu.
“Ya. Jangan menungguku. Mimpi yang indah, Sayang.”

Sangat manis.

Sampai rasanya aku ingin mati.

Cavin mengakhiri teleponnya, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.

“Istrimu?”

Ada jeda beberapa detik sebelum Cavin menjawab, “Ya.”

Setelah itu keadaan benar-benar hening. Kami bahkan tak bergerak sedikit pun.Baru beberapa menit yang lalu aku dibawa lupa pada kenyataan. Setelahnya aku dibangunkan dengan cara dibanting.

“Dia selalu menjadi alasan.”

Cavin masih bergeming saat aku membuka suara. Tak ada tanda-tanda ia akan menimpali. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang polos tak tertimpa bayangan benda apa pun.

Suaraku tak menyiratkan emosi apa pun, karena aku hanya ingin bercerita, bukan meluapkan emosiku.Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku dan mendudukkan diriku.

“Dulu, aku juga tidak datang ke wisudamu karena dia. Saat itu kita belum memiliki hubungan apa pun. Tapi aku terlalu takut dia bisa membaca mataku yang memandangmu dengan perasaan. Aku juga takut karena tak siap melihat dia yang begitu beruntung menjadi kekasihmu.

“Dua hari yang lalu, kau tak datang ke wisudaku karena kekasihmu yang kini menjadi isterimu. Aku tidak marah. Aku hanya ingin bercerita.”

Cavin berbalik lagi padaku pelan-pelan dan membawa sisi lain selimutku ke atas tubuhnya.

“Aku minta maaf”

“Aku yang harus meminta maaf.”

“Lilian…”

 

Cavin adalah jenis kopiku yang lain.Aku selalu ingin menyesapnya dan menandaskannya. Akuselalu menginginkannya lebih dari apa yang bisa dia berikan.

 

Hitam pekatdan manis yang mengingatkanku pada pengkhianatan yang dia lakukan. Dia candu bagiku yang akan selalu membuatku lupa pada kenyataan bahwa dia milik wanita lain, tak peduli seberapa keras aku mengakui bahwa akulah wanita yang paling mencintainya.

Dia selalu datang dengan senyuman dan pergi bersama ketidakrelaaanku seperti ampas kopi yang tertinggal di dasar cangkir. Selalu seperti itu, dan tak pernah berhenti. Aku ingin larut tapi itu artinya mati tenggelam.

Malam ini, dingin kembali menyergap. Cavin masih ada untuk menemani malamku setelah memungut pakaiannya dan menggunakannya lagi. Tak ada apa-apa lagi. Dia hanya menunggu jam kedatangan bis.

Aku terlelap, dan bangun di pagi hari tanpa kehadirannya. Aku masih merasakan jejak-jejaknya yang sialnya tak bisa hilang seperti noda kopi di cangkir putih.

Untuk malam selanjutnya, aku berjanji akan puas dengan kopi di WayEl dan alunan melodi Fur Elise sebagai pengganti Cavin;Janji yang sama untuk ke sekian kalinya di setiap waktu setelah kepergian Cavin.

Penikmat kopi tidak akan pernah marah disuguhkan kopi yang pahit.

 

 

(Zay Ilary)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *